Di suatu pagi yang cerah, matahari keluar dari peraduanya untuk menyambut kedatangan sang bayi mungil. Sang bayi yang baru saja datang dari dunia rahim ke dunia yang fana ini. Di pagi ini pula ia belajar menangis. Mulai dari menangis perlahan, menangis manja sampai menangis tersedu-sedu. Di esok harinya, ia mulai mengedipkan matanya yang masih sayu. Di hari itu pula bayi belajar berkedip. Mulai dari berkedip perlahan, berkedip manja sampai berkedip-kedip. Di hari-hari selanjutnya hingga genap 365 hari sang bayi telah banyak belajar tentang psikomotorik.
Semakin bertambah usia hingga sang bayi dinyatakan balita, bayimulai tampak lincah. Tak hanya psikomotorik, tapi afektif dan analoginya pun mulai dia kuasai. Menginjak remaja, bayi mulai mengenal dan memahami tentang aurat, pergaulan, dan Allah Sang Pencipta. Setelah dewasa, bayi yang saat itu di lahirkan dari dunia rahim ke dunia fana ini tanpa ilmu apapun, saat ini, saat bayi dinyatakan dewasa dia sudah menguasai semua ilmu yang ada. Ada ilmu tauhid, fiqh, nahwu, tasawuf, dan ilmu-ilmu lainya. Tak hanya pandai menguasai dan memahami ilmu tapi bayi dewasa ini juga pandai menerapkan dan mengamalkanya. Bahkan seumur hidupnya ia persembahkan untuk Allah Sang Pencipta yang ia kenal waktu itu. Dan pada akhir hidupnya di dunia fana ini, dia dinyatakan LULUS tanpa cacat menguasai dan menerapkan ilmu dan memperoleh penilaian yang sempurna.
Suatu senja, saat matahari mulai berpulang ke peraduanya, bayi yang dinyatakan lulus tanpa cacat menguasai dan menerapkan ilmu juga berpulang ke Allah tempat asalnya sang bayi. Saat sampai di hadapan Allah, dia menerima sebuah buku yang isinya adalah raport perjalanan hidupnya. Dalam hatinya dia sangat bangga pasti Allah juga akan memberikan penilaian yang sama dengan saat dia masih berada di dunia fana.
Perlahan ia membuka raport yang telah diberikan padanya. Deg…. betapa terkejutnya saat ia melihat nilainya. Ternyata penilaian yang Allah berikan padanya sangat jauh berbeda dengan penilaian yang ia terima saat di dunia fana. Ia hanya memperoleh nilai separohnya saja. Wuih… betapa kecewanya ia. Dalam seumur hidupnya ia persembahkan seluruhnya untuk Allah dengan harapan ia akan memperoleh nilai yang sempurna di hadapaNYA. Namun ternyata enggak. Bayi pun mengajukan protes pada Allah.
“ Allah, dalam seumur hidupku telah kupersembahkan untukMu. Tanpa sedikitpun aku lalai dariMu. Tapi mengapa Engkau memberikan penilaian yang jauh dari memuaskan?? Mengapa wahai Allah? Adakah yang salah dari aku??”
“ Wahai hambaku, tiada sedikitpun yang salah dan luput darimu. Tapi hanya satu hal yang kamu lupa dan belum kamu lakukan.” Allah memberikan penjelasan.
“ Apa itu wahai Allah…???” Tanya bayi dengan penuh harap akan jawaban.
“ Angkau tidak membawa amal kebersamaanmu dengan belahan jiwamu. Padahal itulah separoh dari amal yang akan menggenapkan penilaianku terhadapmu” Jelas Allah.
Dengan perlahan tertunduklah ego sang bayi. Dan mundurlah ia dari keinginanya sendiri sehingga ia meyakiniNYA.
D


Hai..Salam kenal, mampir ketempatku yuk, sambil lihat-lihat koleksiku..
Oleh: Lady's Corner on April 29, 2010
at 5:29 am
Salam kenal dari mahasiswa yogyakarta, mari kita tingkatkan dunia pendidikan di Indonesia melalui media blog ini, bersama kita tingkatkan mutu dan kualitas masyarakat, semoga tulisan anda yang bermanfaat ini dapat digunakan dengan baik oleh siapapun dengan menjunjung tinggi dan menghormati hak cipta. @ beasiswa s2
Oleh: beasiswa s2 on Mei 15, 2010
at 6:08 am
Subhanallah, salam kenal…
Oleh: Tyas on Juni 25, 2010
at 12:58 pm