Oleh: mutiatun | Juni 1, 2008

Kado Terindah

An, kita jalan-jalan yuk…!!!”

Kemana mas? Iya deh, ngikut”

Berdua aja, Ibu ma Idan biar di rumah”

Kita makan trus siap-siap”

OK…”

Pukul 7 lebih 15 menit kita keluar rumah menuju stasiun kereta. Aku cuek aja mo menuju ke mana. Toh aku tak pernah tahu jalan. Aku hanya ingat dari rumah menuju stasiun arahnya kekanan dan ditengah jalan belok kanan dan belok kiri. Kita susuri stasiun demi stasiun hingga suatu ketika di pertengahan jalan yang membentuk sudut sekitar 45 derajat, kereta tak mampu bergerak lagi. Mungkin kereta sudah tua sehingga tak mampu lagi mengangkat beban yang berlebih. Semua penumpang turun dan berhamburan kesana kemari mencari angkot untuk mencapai tujuan masing-masing. Aku yang hanya 1,5m lebih sedikit dan berat sekecil ini tak mampu menuruni peron yang hampir sama denganku.

Mas, aku ga bisa turun. Mau kemanasih mas….???”

Kau hulurkan keduan tanganmu dan manggendongku. Berhasil sudah aku menuruni peron itu. Kita meninggalkan peron dan menuju jalan raya. Akhirnya kita berganti dengan taksi. Dalam taksi yang mengantarkan kita berdua tak hentinya kau menyampaikan banyak hal. Kesabaran, ketawakalan dan kepasrahan diri pada Yang Maha segalanya.

Wow…. kau mengajakku kesini? Sungguh? Tak kusangka kau mengerti apa yang membuatku terkejut. Ya……. di Taman Mini Indonesia Indah. Mungkin kau masih ingat akan cerita gombalku tentang bioskop tiga dimensi yang ku idamkan saat aku masih semester 4. Dan sekarang kau mengajakku nonton? Surpise for me.

Kita mo nonton mas?”

Ya coba aja barangkali hari ini masih di puter dan tiket masih ada”

Kau mengantrikan beli tiket dan aku menunggu sambil duduk di kursi yang tak jauh dari loket. Banyak hal yang kupikirkan. Tentangku, tentangmu, tentang keluarga kita dan tentang semuanya. Tak lama kau dapatkan tiket itu, hanya saja masih menunggu 1 jam untuk pemutaranya.

Aku hanya ingat di kampung sejuk dikota Magelang, tak siang tak malam. Kampung kelahiran kita berdua. Kampung yang kita rindukan bersama. Terukirlah sebuah cerita tentang kita. Sudah menjadi tradisimu kala matahari tinggal sepenggalah kau mengambil sepeda balapmu dan mengajakku untuk kau bawa menyusuri indahnya perkampungan kita. Kau mengayuh di belakang dan aku dipangkuan sandaran depan. Seraya kau membuktikan pada mereka yang memandang seakan kita adalah dua sejoli yang sedang bercengkerama mesra.

Saat kumulai mengerti arti persahabatan, kau mulai pergi dariku. Saat kumulai mengerti Ayah, kau tak kutemukan. Saat ku butuh setetes pencerahan, seakan kau adalah telaga yang kering di padang pasir yang tak pernah mengucurkan air kesejukan. Saat kubutuh keputusan, seakan kau adalah pengadilan tanpa hakim. Saat kumulai butuh pegangan, seakan kau rapuh tak bertenaga. Bagai pasir yang terhempas angin. Begitu pula hati ini dan hati mu tak pernah tertautkan. Hati yang tak pernah menempel pada hati yang rapuh yang tak pernah terukir kenangan manis. Seakan kau adalah zamrud dalam almari kaca yang hanya bisa kupandang dan kukhayalkan. Tapi satu hal yang membuatku bertanya. Kapan sih kakak mau mengerti akan aku? Meski aku tahu, aku tak pernah tahu syapa kakak. Mungkin hanya sedikit bahwa kakak adalah aktivis FPI, itu saja. Tak lebih. Harusnya kakak tahu dari aktivitasku, gombalanku, curhatanku, dan segalanya tentang aku. Tapi kapan aku bisa mengerti akan kakak dan kakak mengerti akan aku…??? Kapan…???

Dalam kamar dengan ukuran 2*3.5 m tempatku terlelap melepaskan kesal dan cape yang berada di bagian sayap kiri rumahmu. Ditemani ranjang tingkat 2, sebuah almari dan sebuah rak serta kaca hias. Sementara kamarmu jauh terpisahkan oleh ruang tamu dan berada di sayap bagian kanan rumah. Ditambah 3 pintu yang menutup antara kita. Pintu kamarku, pintu ruang tamu dan pintu kamarmu sendiri. Aku melepaskan beberapa atribut kebesaranku yang kukenakan siang tadi dan kuganti dengan atribut yang sesuai dengan acara untuk pergi ke alam mimpi. Aku merebahkan tubuh kecilku dan pikiran yang seolah tak mau berhenti berpikir akan suatu hal. Kukenakan selimut sebagai pelindung dari angin malam yang lumayan dingin ketika menyentuh kulitku. Kubaca mantra Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas dan mantra sebelum tidur. 10 menit kemudian aku berada di bawah alam sadar dan aku bermimpi. Saat itu aku punya seorang teman laki-laki yang secara geografi jauh dariku. Dan kita hanya sekedar tahu nama dan tempat tinggal, tak lebih. Kita bertemu dan hanya saling melihat secara berjauhan tanpa sepatah katapun. Saat fajar mulai mengintip aku terbangun. Dan seketika itu pula aku lupa dengan mimpi yang barusan menimpaku. Hanya sedikit yang masih mampu terekam dalam otakku. Kuucapkan istighfar dan kutenangkan diri ini. Kubuka pintu kamarku dan kuambil air wudlu yang berada di ruang tamu untuk menegakkan sholat malam. Hatiku mulai terusik ketenangannya selama hari-hari setelahnya.

Huh…….akhirnya datang juga waktu yang ditunggu-tunggu. Kita ambil posisi duduk di tengah untuk mengindari kepala yang harus tengok kanan kiri. Awalnya sih biasa aja. Hanya sekedar berita proses penggalian induk dan telur Tirex. Hewan purba yang sedang diteliti keberadaanya. Asik juga jadi peneliti. Bolak-balik komputer-lapangan. Sok gitu loh…. Oh no…ternyata helikopter pemantau menabrak tebing dan hampir terjatuh ke laut. Untung saja sang pilot dengan gesitnya mengarahkan ke atas. Ati gue jadi deg-degan, mata pening dan kepala jadi tuing-tuing gara-gara muter-muter dintara tebing dan lautan. Namanya juga bioskop layar lebaar… banget. Satu jam kita nonton, puas rasanya. Berapa lama aku menunggu saat untuk bisa menunaikan hajatku nonton bioskop dan terobati hanya dengan satu jam. Sudahlah… aku putuskan untuk keluar arena dengan jalan sempoyongan menyusuri tangga melingkar.

Aduh mas, aku pusing”

Ya udah istirahat dulu”

Kau mengajakku untuk barang sebentar meluruhkan kepeningan akibat radiasi dari sorot proyektor yang tertangkap oleh mataku. Meski peluruhan belum selesai, energi sedikit pulih. Kulangkah kaki munuju rumah yang sangat kurindukan kesejukanya dan kedamaiannya untuk menegakkan sholat asar.

Mas, kita mau kemana lagi? ”

Ke sodara kita dari kampung, pakde. Gak jauh kok dari sini. Jalan Cuma 10 menit. Tapi cari makan dulu ya…??” Tegasmu menjawab penasaranku.

Nah itu restoran apa?” Tanyaku saat sampai di gerbang dengan plank bergambarkan mangkok berisi mie.

Aneka macam mie, ada mie cina, mie lokal”

Kan tadi juga makan mie…. jangan lah mas… ntar dede kecil protes kok makan mie mulu……”

Ya udah kita cari sambil jalan ke tempat Pakdhe” Kau tenangkan aku kala itu.

Mas…….. aku kadang bingung. Dituntut untuk banyak pengeluaran, tapi ilmu yang masuk kadang tidak mampu untuk mengimbanginya. Maka tak jarang aku salah langkah, salah ambil strategi, salah konsep dan futur yang amat sangat” Keluhku padamu. Yang sengaja ku curhatkan dengan harapan aku tahu akan dirimu.

Ibarat badan tanpa makanan akan sakit, begitu pula ruhmu. Ruhmu akan sakit yang tiada laen obatnya adalah kamu sendiri yang tahu. Apa sebabnya dan apa obatnya serta kemana kan kau cari. Orang laen hanyalah sebatas memberi masukan. Kamu bisa mengambilnya, tapi bisa juga tidak. Hanya kamu yang bisa memutuskan.”

Iya sih mas….” Nadaku pasrah. Aku tak mampu lagi berkata. Andaikan kau tahu apa yang berkecamuk dalam hati. Dan andaikan kau sejalan denganku, maka kutakkan tutup mulut cukup sampai disini. Kau hanya membuatku penasaran dan ketakutan. Aku tahu kamu itu tahu yang sebenarnya. Tapi kenapa hanya itu yang kau katakan…??? Jawabmu sungguh tak kuharapkan.

Itu mas ada roti bakar. Ga papa aku suka kok…..” Pintaku saat kulihat warung yang menyediakan roti bakar di emperan rumahnya.

Ku pesan dua gelas teh hangat dan sepiring roti bakar. Ya… hanya satu piring buat berdua. Buatku dan buatmu. Tak ada waktu sedetikpun tanpa kita bercanda dan saling mengingkatkan. Pukul 17.30 kita menuju rumah pakdhe. Alhamdulillah….sampai di sana pas waktu maghrib. Kita sholat dan menunggu sampai isya. Aku jadi pendiam kalo ma orang yang tak kukenal. Maklumlah, belum terbiasa meski dia adalah saudara sendiri.

Setelah azdan isya berkumandang, kita pamit pulang takut kemaleman. Kita susuri lagi jalan berangkat tadi sore. Malam itu so romantic berhiaskan bulan yang penuh dengan senyuman dan bintang yang berkedip-kedip nan jauh disana. Entah berapa juta km jarak antara keberadaanku dengan bintang-bintang itu. Bahkan waktu kuliah dengan Pak Kiswo mata kuliah Fisika modern aku sampai bingung menuliskan jumlah 0 yang harus menyertainya. Maka di ubahlah satuan itu dalam satuan ”tahun cahaya”. Coba bayangkan, cahaya berjalar 3 km dengan 0 yang menyertainya berjumlah 8 dalam waktu 1 detik. Nah…. kalo 1 hari, 1 bulan, 1 tahun? Tinggal mengalikan dan hitung jumlah 0 nya. Pusingkan..????

An, kamu lihat ga bulan dan bintang itu?”

Iya, kenapa mas?”

Menurutmu, dimana keberadaanya sekarang?”

Ya di situ yang aku lihat”

Masak…???”
”Hm em….”

Cahaya bulan atau bintang yang sampai di mata kita sekarang ini adalah butuh beberapa tahun cahaya. Jadi, cahaya sekarang yang sampai adalah cahaya bulan atau bintang yang disampaikan waktu itu. Bukan cahaya bulan dan bintang yang sekarang dipancarkan. Kita tidak tahu keberadaan bulan dan bintang saat ini. Keberadaan saat ini akan sampai pada kita beberapa tahun lagi. Sekarang dimana keberadaanya kita tidak tahu.” jelasmu saat itu, dan aku hanya bisa mengiyakan meski ku tahu bahwa kau bukan seorang fisikawan.

Hal itu sama dengan keberadaan kita, orang lain hanya sekedar tahu dimana keberadaan kita beberapa waktu yang lalu dan hanya dari sebagian kecil sisi dirikita. Kita hanya kita yang tahu. Sebagaimana kamu, yang tahu penyakitmu hanya kamu, orang laen hanya sedikit melihat atau meraba ada apa denganmu yang kemudian hanya sedikit masukan untuk bisa kau jadikan sebagai referensi “.

Di perjalanan pulang, aku memilih diam karena memang sudah cape dan kantuk. Jam setengah sembilan malem kita sampai rumah. Alhamdulillah….berarti bisa istirahat.

22 April 2008 adalah hari kebahagiaanku. Karena hari itu adalah hari penyematanku atas masa studiku di sebuah universitas negeri di Semarang selama 4 tahun 5 bulan 5 hari. Dan hari ini, 15 April 2008 kulayangkan sebuah pesan singkat kepadamu. ”Mas, aku wisuda tanggal 22 April. Bisa ke Semarang ga?”. Dari seberang sana kau mengirimkan pesan sebagai balasan, ”Maaf An, aku lagi nunggu UAS di sekolah”. Hatiku pedih saat baca pesan singkat itu. Kutanyakan lewat pesan singkat ke teman yang kebetulan dah wisuda 6 bulan yang lalu. ”Wisuda itu hari yang paling membahagiakan ya…??”. Dia mengirim pesan balasan, ”Ya tergantung gimana pribadi kita. Gimana menurutmu?”. Saat itu aku hanya bisa berkata, ” Ibu… cukuplah hari bahagia ini hanya kupersembahkan buatmu”.

21 April 2008 ada sebuah pesan singkat yang masuk dari kakak perempuanku yang memberitahukan bahwa besok Masmu akan pulang. Ow….. betapa bahagianya diriku. Berarti hari bahagia ini buatku, buatmu, dan buat Ibu.

Dalam perjalanan pulang dari penyematan wisuda, aku duduk di depan di samping pak sopir, sementara kamu di belakangku. Saat itu kau minta aku buat mengirimkan pesan untuk ustadz, yang isinya, ”Assalamu’alaikum wr wb Ustazd. Afwan, saya tidak bisa ikut kajian pekanan nanti malam. Lagi pulang kampung. Wassalamu’alaikum wr wb”.

Kala matahari tinggal sepenggalah, kau mengajakku motor-motoran. Sore ini tak seperti sore kala itu. Sore ini aku tak di depanmu, tapi sore ini aku di belakangmu. Sore ini, diatas motor ini aku hanya bisa berkata ” Terima kasih kakak. Kau telah memberikan jawaban buatku. Meski kau tak berucap. Ya, meski hanya sebuah pesan singkat yang kau perintahkan buat mengirimkan ke ustadz. Tapi inilah kado terindah yang pernah kau berikan buatku”.

By, Mutia_sabira

Buat kakaku di Bojong yang MILAD tanggal 15 Mei

Barokallah…. mEt uLanG TaHun”

Smoga umur yang Dia berikan mampu memupuk amal kebaikan dan cinta kepadaNya


Tanggapan

  1. Kado terindah :)

  2. wew..
    premium!!!
    he he.. g dapet pertamax, jhe..

    :P

  3. thats what brother are for, teh…
    :)

    biar kata kepisah dan berasa jauh, tapi hati kita akan tetap satu. sayang itu akan tetap kekal. karena darah yang mengalir di diri kita dan saudara kandung kita adalah sama…

    bener2 kado terindah…

  4. met milad buat kakanya y teh..

  5. Met ulang tahun juga nich

  6. met milad buat kakaknya :)
    :)
    :)

  7. Met milad buat kakanya neng…. :)

  8. met milad

    moga sukses

  9. met ultah aja deh….!

  10. aku juga ucapin met ultah, salam kenal juga.

  11. selamat ulang tahun untuk si kakak..

    semoga sisa umurnya penuh iman dan amal shaleh

  12. met milad bwt beliau mbak…
    ditunggu kiriman makan-makannya :)

  13. waduwww, gambarnya tuh lho, romantis banget

  14. jadi inget kakakku :)

    btapa baru sadar beberapa tahun yg lalu, kalo diriku sayang sama satu2nya saudara kandungku ituh :mrgreen:

  15. Bahagianya dapat berbagi kebagiaan…

  16. Aaahhh …
    akhirnya teh Muti kembali lagi …
    kemana hungkul teh ???
    lama gak keliatan …

  17. Selamat… Selamat…

  18. waaaahhhh indaaaahnyaaaaaa…..
    sy ikut merasakan apa yg dirasakan…

    perasaan berbahagia ;)

  19. “Kubaca mantra Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas”…apa ketiga tersebt pantas dibilang mantra????? kok aku ga paham ya, apa iya seh???

  20. pecinta cerpen nie…..
    bagus juga cerpen2 yang ada disini ….
    kembangkan terus bakat yagn muali melekat itu ….

    ^ salam ^


Beri tanggapan

Your response:

Kategori